obat pahit buat bapak, yg manis buat adek

22.30 alias jam sebelas kurang setengah jam, yah.. Artinya masih ada 30 menit sebelum waktu tidurku tiba. Tapi rasanya kali ini dengan turunnya hujan  sangat kondusif untuk tidur lebih awal dari biasanya. Seperti biasa aku pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi, ini salah satu kebiasaan yang aku tiru dari kakak sejak kecil.

Tiba2 saja lewat pertanyaan dalam benakku: mengapa dokter tidak membuat semua obat berasa manis?

Pertanyaan itu membuat sel-sel otakku tiba-tiba terasa lebih hidup dan rame , seperti ada perlombaan yang sedang digelar.
“Tettt.. Ribet tau, dokter masih punya banyak pasien ngapain ngasih gula ke obat untuk semua orang??”
Ini salah satu jawaban dari otakku.

Suara lain yang agak kalem tapi mendalem menjawab : ” kuncinya ada di nalar, ya nalar”.
Yang kalem kayak gini emang omongannya kadang susah dipahami.
“Nalar gimana maksud lo?”

“Obat dibiarkan pahit untuk orang dewasa karena mereka sudah punya nalar, wis ndolor (bhs jawa kasar) sudah bisa diajak mikir bahwa pahitnya obat yg cuma lewat tak seharusnya halangi keinginannya utk sembuh dari penyakit.
Sedangkan anak2 tidak bisa diajak mikir, nalarnya belum sepenuhnya jalan. Penginnya instan, belum punya pikiran sedikit berkorban utk kepentingan yg lebih besar.
Anak2 merasa sangat tersiksa ketika minum obat pahit, mereka menolak minum obat meskipun resikonya sakit tak kunjung sembuh

Ngomong2 tentang pil pahit, kadang mirip nasehat.
Nasehat itu berguna, tapi kadang memang ada yg terasa pahit. Disampaikan oleh sang penasehat (maksud saya orang yang menasehati) dengan dilengkapi data berupa deretan kekurangan dan kesalahan kita *busyet dah.  tidak jarang orang yang dinasehati malah  tersinggung dan marah. Kemudian menyerang sang penasehat, “halah sok tau”, “sok alim lu”, “emang kamu pikir kamu ini siapa?”

Ini kembali lagi ke masalah nalar, hanya orang2 yg nalarnya jalan yg bisa terima pil pahit nasehat. Nasehat itu bagus untuk perkembangan kita. Kita dibantu mengetahui mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dibuang.

Sang penasehat juga harus teliti siapa yang lagi dinasehatinya, tampang tua belum tentu nalarnya dewasa. menghadapi orang-orang yang nalarnya belum dewasa perlu perlakuan beda. beri nasehat dengan campuran pujian manis secukupnya. kalo anak-anak biasanya minum obat berupa serbuk biar mudah dicerna maka untuk menasehati orang-orang dengan nalar yang kekanak-kanakan juga harus dalam bentuk yang mudah dicerna pula.

satu lagi, nasehat itu bukti kalo kita sayang, tak perlu menunggu jadi manusia sempurna untuk sekadar menasehati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s